Saat transit di Bandara Antar Bangsa Soekarno-Hatta, perjalanan dari Denpasar menuju Kota Padang (Sumatra Barat) untuk perjuangan "menyebarkan" gerakan "back to nature in child birth" saya baca buku "Female brain:mengungkap misteri otak perempuan" ditulis oleh seorang psikiatris Dr.Louann Brizendine, buku ini cukup fenomenal dan menggigit buat saya.
Pergolakan pemikirannya dan keberanian menantang konsep psikoanalisa sungguh saya kagumi.
Brizendine mengungkap fakta bahwa hingga usia delapan minggu, semua otak janin kelihatan berjenis perempuan. Jenis perempuan adalah pemasangan gender yang sudah ditentukan oleh alam. Jika kita amati perkembangan otak perempuan dan laki-laki melalui fotografi-prosesor, kita akan melihat diagram-diagram area keduanya ditata mengikuti rancangan yang dibuat oleh gen maupun hormon seks.
Suatu gelombang besar testosteron yang dimulai pada minggu kedelapan akan mengubah otak uniseks menjadi otak laki-laki. Caranya adalah dengan mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Jadi ini menjelaskan mengapa lelaki lebih mudah memilih perang dari pada diplomasi.
Jika gelombang testosteron ini tidak terjadi, otak perempuan ini terus tumbuh tanpa gangguan. Sel-sel otak janin bayi perempuan ini menumbuhkan lebih banyak lagi sambungan di pusat-pusat komunikasi serta area-area yang memproses emosi.
Perbedaaan ini kemudian membentuk perbedaan antara perempuan dengan laki-laki. Bayi perempuan akan lebih suka bicara dari pada saudara lelakinya. Laki-laki menggunakan sekitar 7.000 kata per hari. Perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari.
Dan perempuan memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dibanding lelaki dalam membaca emosi orang sekitarnya.
Sejak lahir, bayi perempuan sudah berminat pada ekspresi emosi. Mereka mendapat makna tentang diri mereka berdasarkan tatapan, sentuhan, dan setiap reaksi dari orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka. Dari petunjuk-petunjuk ini, mereka mengetahui apakah mereka berharga, layak dicintai, atau menjengkelkan.
Anak-anak perempuan tidak menoleransi wajah yang datar. Mereka menafsirkan wajah tanpa emosi yang diarahkan kepada mereka sebagai sinyal bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Wajah yang tak ekspresif sangat membingungkan seorang anak perempuan.
Gelombang pasang estrogen dan progesteron mulai menyalakan banyak sirkuit dalam otak gadis remaja yang telah tersusun dalam janin. Gelombang hormon baru ini membuat semua sirkuit otak perempuannnya menjadi semakin peka terhadap perbedaan emosi, seperti persetujuan dan penolakan.
Di buku ini banyak pertanyaan dijawab seputar keunikan perempuan. Seperti:"mengapa perempuan tahu apa yang dirasakan orang lain, sedangkan lelaki tak dapat melihat emosi kecuali seseorang menangis?" Dan pertanyaan lain:"mengapa pikiran tentang seks memasuki otak perempuan setiap dua hari sekali tetapi memasuki otak lelaki hampir setiap dua menit?"
Buku ini layak dibaca oleh perempuan dan tentu wajib dibaca lelaki. Secara konteks dan penyajian, buku ini menggunakan kelenturan yang cukup baik dalam bahasa yang lebih dekat yaitu bahasa populer. Saya bisa mengerti mengapa Daniel Goleman,penulis Emotional Intelligence memuji Brinzendine karena telah melakukan terobosan yang menakjubkan bagi laki-laki yang ingin mengetahui anehnya cara perempuan berpikir. Buku ini mencerahkan dan banyak kejutan.
Sahabat saya sering mengingatkan perbedaan orang biasa dengan orang bijak. Orang biasa sering merasa pintar, namun orang bijak selalu berusaha pintar merasa. Setelah membaca buku "Female brain" saya berkesimpulan bahwa perempuan adalah mahluk bijak karena lebih pintar merasa. Dibanding lelaki yang sering mengaku dan merasa pintar.
Salam




